Februari, sepuluh, dua ribu delapan! Tidak lama lagi, dan dalam hitungan hari masa itu pun segera kan datang. Kegalauan, kecemasan, keterpurukan... dan hati yang gundah pun semakin sekarat. Dengan kecepatan penuh, dua puluh empat jam perhari, suatu kecepatan yang sudah tak terbantahkan, secepat itu juga hati yang gundah ini semakin meradang. Dengan kecepatan tersebut, loncatan minggu pertama pun pasti terlampaui.
Pakaian, kertas-kertas yang berhamburan, dan semua barang yang tidak tertata rapih seolah mencerminkan kegalauan dalam hati yang gundah ini. Perlahan kusapukan pandanganku kesetiap sudut ruangan, dan setiap pandanganku selalu menangkap semua hal yang mengingatkanku pada semua kejadian yang kulalui.
Dan ketika kenangan itu berhenti pada suatu kurun waktu,
Adalah dusta bila tak disadari…
adalah penghianatan sanubari…
jika itu bukan sekedar basa-basi
Kesadaranmu mengeskpresikan isi hatimu,
menggambarkan ketidak inginan,
menunjukkan ketiadaan asa,
namun berharap ketiadaan duka
Kesadaranku…
apakah hanya kesadaran semu?
atau hanya harapan yang tak berujung?
atau sebaliknya…
itukah kesadaran mencintai?
itukah kesadaran menyayangi?
bahwa cintai bukanlah ingin…
bahwa sayang bukanlah asa
ku kau sadari dan kau ku sadari



