Meradang

Kupandangi dari balik kaca,... satu, dua, tiga... semua, hampir semua usia ada di sana, di kamar bangsal 25. Apatah gerangan sehingga sanak saudara berkumpul semua... Perlahan kubuka pintu dan kudekati mereka.. sayup terdengar suara lirih dari seorang ibu tua mengucapkan sesuatu kalimat... tunggu... kalimat itu tidak asing di pendengaranku... laa ilahaaillallah... kata-kata itu mengalir pelan tapi tegas ditujukan pada orang yang terbaring di atas kasur... Ternyata si ibu menuntunnya... menuntun ke jalan menuju surga.. wallahu alam...

Aku terhenyak, dikala jelang kematian, semua saudara berikan perhatian, berikan kecintaan, dan berikan semua kasih sayang yang ada untuk si sakit. Ku lihat senyum ikhlas di bibir si sakit, pelan dia tersenyum pada setiap orang yang mengelilinginya. Wajahnya begitu damai, bahagia, betapa dia merasakan kasih sayang, kecintaah dan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Semua dia pandangi, semua mendapat senyuman, hingga tidak ada lagi yang terlewatkan.

Tanpa sengaja dia memandangku, lama, dan senyumnya semakin mengembang seolah senyum kemenangan atau senyum yang berusaha sembunyikan tertawa. Entahlah... semua mata memandang ke arah pandangan si sakit, memandangku... seolah bertanya ada apa gerangan?

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... terucap dari mulutku sambil menatap si sakit.. dan semua mata kembali memandang ke arah pandanganku, menatap si sakit.. Satu, dua, tiga... semua, hampir semua usia yang ada disitu berteriak histeris, menangis....

Ku dekati almarhum, kubisikkan ke telinganya :

Bung, kenapa kau tersenyum demikian rupa, padahal kita tidak saling kenal? Kenapa kau sembunyikan tawamu, padahal tidak ada kelucuan disitu?
Ah... ternyata kau menertawakanku karena aku tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang dan kecintaan dari orang yang mencintai aku disaat aku meradang. Kau tersenyum penuh kemenangan karena kau bisa dapatkan perhatian, kecintaan dan keperdulian dari orang sekitarmu, sementara aku terus meradang berharapkan hal yang demikian
Bung, aku cemburu dengan keberuntunganmu

0 comments:

Post a Comment