Aku tidak menafikkan bahwa aku terus berharap dengan hubungan ini, aku pun tidak nafikkan bahwa aku bersedia menanti sampai kamu benar-benar mendapatkan pandangan baru, atau kamu kembali kepada tujuan kita semula. Tapi tidak mungkin aku nafikkan bahwa ternyata sudah tidak ada lagi niat dan keinginan kamu untuk kembali ke tujuan semula. Semua tiada guna lagi ketika niat dan tujuan telah ditiadakan... padahal niat dan tujuan itu yang membuatku terus dan terus berharap dan mencoba dengan keyakinan yang ada untuk capai apa yang telah ditetapkan..
Ketika tujuan tiada lagi, apa yang harus dicapai?
Ketika niat sudah terhenti, apa yang jadi pendorong hati?
Ketika semua sudah dinafikkan, haruskah jadi kemunafikan?
Nafikkan !
Kegundahan pada : Jumat, Februari 08, 2008



